Angka bukan segalanya.

Di beberapa artikel sebelumnya saya menyindir soal angka, dan sekarang kita akan bahas lagi lebih dalam.

Angka terkadang sebagai patokan terhadap sesuatu, jumlah, umur dan masih banyak lgi hal, tpi poin yang akan saya bahas disini tentang kehidupan kita, tentang skill dan tempat belajar.

Ketika saya kuliah, fokus saya mengejar angka, ketika saya sekolah pariwisata, selama 3 tahun itu bukan skill yang saya cari, namun angka, rank 5 besar terus saya kejar.

Cuma saya merasa, setelah selesai sekolah, yang di butuhkan bukan nilai ijazah, namun skill yang saya ternyata tidak cari. Ijazah saya masih terpampang dengan rapi tanpa ada fungsinya.

Ketika masuk industri pekerjaan, saya merasa,

“ok, i feel stupid”.

Mana ??!

Nilai yang selama ini saya kejar, hanya serpihan kaca yang tak berguna. Dan dari sana lah saya melihat dunia industri jauh lebih kejam dibandingkan dengan sekolah.

Saya selalu ada di zona nyaman. Saya melanjutkan studi ke dunia IT, karena dari kecil, mungkin ini fashion saya. Saya mulai banyak mengembangkan diri, menutup mata dari godaan zona nyaman, melakukan investasi agar lulus berkualitas, bukan lulus dengan IPK besar namun tidak terpakai di dunia nyata.

Sekali lagi, Industri lebih jahat.

Saya engga peduli dengan IPK yang besar. Setidaknya saya harus punya skill yang cukup untuk keluar dari kampus nanti. IPK nomor 2 atau 3. Angka tidak bisa mengukur seperti apa diri kita.

Namun kita jangan membenci angka, angka akan selalu berdampingan dengan hidup kita, engga akan lepas dan menjauh. Pesan dari cerita saya mungkin, jangan terlalu bergantung dengan angka selalu, terutama yang berkaitan dengan skill, pengalaman dan skill faktanya lebih dibutuhkan di dunia kerja.

Saya engga mau temen temen menyesal karena terlalu fokus dengan nilai atau IPK, sehingga lupa untuk apa kita sekolah atau kuliah. Penyesalan datang belakangan.