Untuk Meraih sesuatu harus mengorbankan sesuatu juga.

hal selanjutnya yang saya tekankan pada diri saya adalah saya tidak bisa mengabil semua apa yang kita ingin kan, ada kalanya kita hanya bisa mengambil 1 pilihan dari banyak pilihan.

saya teringat beberapa pengalaman kehidupan saya. ketika saya di suguhkan pilihan harus mengejar IPK tinggi atau membuat sesuatu yang bermanfaat untuk banyak orang. Saya malah menyesal kenapa baru menyadari hal ini ketika itu. Seperti dugaan temen temen, saya memilih membuat sesuatu yang bermanfaat dan mengacuhkan cita cita saya memiliki IPK yang tinggi.

Di Semester awal saya sangat antusias dengan yang namanya IPK, di embel embeli kata Cum Laude untuk nanti bisa tampil dengan bangga ketika wisuda. Ini gak salah, pemahaman seperti ini tidak salah. Memiliki semangat belajar itu luar biasa menurut saya.

Tapi saya berfikir untuk menjauhkan segala yang berkaitan dengan angka, karena kehidupan tidak bisa di ukur dengannya. Disemester dua, saya mulai acuh dengan yang namanya nilai, saya mulai investasi diri saya di luar kampus. Ternyata ilmu yang saya dapatkan lebih banyak dari pada di dalam kampus, namun bukan berati kampus terpandang jelek dan kita tidak usah masuk kuliah, mungkin ada kelebihan seperti organisasi dan gelar yang di dapatkan nanti di akhir sehingga sistem ini dibuat.

Namun, itu semua dari sudut pandang sayam karena saya pun belajar dari pengalaman. ini balik lagi ke persepsi temen temen semua tentang apa yang harus di ambil. Sekali lagi, engga ada yang salah dari suatu keputusan, pasti ada nilai baik dan buruk yang di dapat.

Seperti cerita yang diatas, saya mengorbankan nilai saya dan waktu bersama teman teman saya di kuliah untuk meraih cita cita saya. Tapi saya menerima itu, karena itu keputusan saya.